10 Agu 2014

PERSAHABATAN SEJATI (by: Vilia Ciputra)


Sampai kemarin kadang aku masih bertanya-tanya, apa itu persahabatan sejati? Bukan karena aku tak tahu artinya, tapi karena aku menyangsikan keberadaannya. Sering aku bertanya-tanya, dimana kalian sahabat-sahabatku disaat aku membutuhkan kalian? Sering juga yang aku temui justru orang lain, dan bukan keberadaan kalian di saat aku berharap kalian ada. Sejujurnya, aku menjadi tak seyakin saat aku menjawab “Pasti!” Sembilan tahun yang lalu, untuk sebuah pertanyaan yang sama, “Apakah kita akan menjadi sahabat sejati selamanya?”

            Sering aku begitu merindukan waktu di mana kita bisa bersama-sama seperti dulu. I know, it sounds cheesy, but it is true. Saat kita berbicara dari hati ke hati, saat kita membela dan menguatkan setiap orang dari kita yang sedang dihadapi pada masalah, saat segalanya terasa begitu mudah selama kita bersama. Sungguh, aku merindukan saat-saat itu.

            Tapi aku juga mengerti apabila suatu hari nanti, semua itu hanya akan menjadi kenangan kita. Akupun mengerti apabila nantinya kita berkumpul hanya karena kenangan masa lalu, karena manusia memang hidup dengan berpegang pada kenangan dan takkan mungkin melepaskannya dengan melupakan. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku berharap kita berkumpul bukan hanya sekedar untuk mengenang. Aku berharap ‘kita’ bukan sekedar kenangan.

            Kemarin malam ternyata aku mendapatkan jawabannya. Persahabatan sejati, mungkin itu terlalu muluk, karena kita belum sejati. Tapi saat kita semua mengusahakan untuk bertemu meskipun harus menunggu berjam-jam, lalu kita bisa berbicara panjang lebar, melewati tahun-tahun yang terlewati tanpa kita, melewati ketidaktahuan yang menumpuk, melewati segala batas profesi maupun batas Negara, dan kembali menjadi kita yang dulu, bagiku itu sudah lebih dari cukup.

            Kupikir, hanya sahabat sejati yang mampu untuk mengatakan terus terang kekhawatirannya dan tetap mendukung apapun yang terjadi pada sahabat lainnya. Dan itulah yang terjadi kemarin malam. Kita semua saling mendukung dengan cara kita masing-masing. Aku mendengar suara hati dan kejujuran. Aku mendengar banyak kekecewaan, kesedihan dan kekhawatiran.

            Kurasa itu sangat wajar dan bukankah saling menyakiti merupakan salah satu syarat utama untuk bisa menjadi sahabat sejati? Karena semua tumpukan kekecewaan, kesedihan,  kekhawatiran dan sakit hati itu, justru menunjukkan porsi yang terbesar untuk cinta dan perhatian. Itu semua sangat jauh lebih dari cukup bagiku.dan kurasa kalian pun merasakan yang sama. 

            Dua bulan ini adalah dua bulan yang menyenangkan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, karena dua orang yang kurindukan pulang, dan dalam dua bulan ini ada banyak masa-masa kebersamaan yang terlewati bisa sedikit terkejar.

            Bohong kalau kukatakan bahwa selama ini aku tak khawatir kita akan berubah termakan waktu dan jaman. Bohong juga kalau kukatakan aku tak pernah kecewa dengan ketidak adaan kalian dalam waktu dan sebagian hidupku. Tapi bohong juga apabila kukatakan aku selalu menyediakan waktu untuk kalian. Kupikir, setiap individu dari kita semua memang manusia-manusia  yang tidak sempurna, tapi kita berlima sempurna. Paling tidak begitu menurutku. 

            Dari antara semua kejadian di dalam hidupku,  bersama kalian adalah sesuatu yang tidak pernah membuatku menyesal  dan kupikir, mungkin takkan bisa tergantikan. Dulu, sekarang, dan semoga… sejati.

            P.S : Aku mengerti betapa sulitnya kita sekarang untuk memeluk satu sama lain.
            Tapi aku juga mengerti, betapa inginnya kita memeluk erat-erat satu sama lain. :)
            Dan itu cukup bagiku.

0 komentar:

Posting Komentar

© 2012 اهلا وسهلا | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com